MY DIARY


Cilacap, 25 Maret 2014

KEKUATAN RECEH

Apa yang akan terjadi ketika Anda berbelanja di sebuah warung dan mendapati bahwa ternyata kembalian yang akan Anda terima serba tanggung?

Anda membeli se-pak lilin, 2 butir telor, dan se-empleng obat flu. Untuk semua itu Anda ternyata harus membayar sebanyak 18.900 perak.

Anda keluarkan uang lembaran dua puluh ribuan, dan dengan hitung cepat (quick count seperti di Pemilu) maka penjaga warung harus mengembalikan uang sebesar 1.100 perak, tidak lebih dan tidak kurang.

Yang terjadi kemudian adalah transaksi yang sesungguhnya di luar rencana Anda. Bisa saja pemilik warung akan mengembalikan uang kembalian dengan 1.000 ditambah bonus sebutir permen. Bisa juga anda akan ditawari untuk membeli ini itu sedemikian sehingga jumlah belanjaan Anda menjadi tepat 20.000. Atau bisa jadi Anda akan mendapatkan kembalian yang tepat 1.100 rupiah itu.

Bila opsi terakhir itu yang kemudian terjadi, maka akan Anda pisahkan uang seribuan dengan seratus rupiah. Seribunya Anda masukkan ke dompet untuk dipakai belanja di kemudian hari, dan seratusnya Anda masukkan ke saku. Sesampai di rumah uang seratus perakan itu Anda letakkan begitu saja di atas kulkas, di gawang jendela kaca, atau di atas lemari entah untuk dipakai kapan lagi.

Repotnya menangani uang kecil dengan satuan seratus atau dua ratus perak adalah anak-anak Anda sudah tidak mau lagi disangoni ke sekolah dengan uang satuan paling kecil di negeri kita ini. Malu katanya. Terlalu berat, kilah yang lain.

Apa yang terjadi dengan uang logam recehan itu terkadang memilukan andai kita menjadi dia. Logam-logam itu kemudian akan mendiami tempatnya yang baru untuk jangka waktu yang sangat lama. Saking lamanya sehingga logam-logam itu akan memudar warnanya, berganti sedikit coklat kehitaman yang kita menyebutnya sebagai teyeng atau korosi. Tidak banyak sidik jari yang melekat di sekujur badannya, hanya sesekali kecoa yang lewat di atasnya sekedar numpang lewat dalam perjalanannya mencari makan.

Receh-receh yang berserakan di atas lemari sedemikian termangunya, menyaksikan teman-temannya yang lebih besar hilir mudik mengisi dompet-dompet yang kita bawa tiap kali kita keluar rumah. Mereka menggerutu : buat apa manusia mendandaniku dengan ukiran huruf dan angka kalau pada akhirnya aku didiamkan begitu rupa?

Gerutu itu bisa begitu lama hingga kita mendapatkan kunjungan dari tamu di luar pintu yang mendendangkan lagu sengau ini itu, kemudian kita berikan recehan yang tekumpul itu, dan tamu itupun akan berlalu dengan ucapan “Terima kasih…om?”, “terima kasih…Tante?”. Kita pun lega dengan perginya si pengamen, uang recehan itu pun lega karena ia bakal kembali menjalani hari-harinya sebagai sarana pembayaran yang sah dalam transaksi ekonomi antar kita.

Habiskah recehan yang ada di atas lemari kita?

Tentu saja tidak. Bila tiap pengamen yang hadir di rumah sampeyan kemudian diberi imbalan seribu perak saja, maka butuh sebanyak puluhan atau mungkin ratusan pengamen yang menyanyi serentak agar recehan Anda bisa beranjak semua dari atas lemari.

Andakan pun pada suatu waktu ada puluhan atau ratusan pengamen tiba-tiba mendatangi Anda secara berbondong-bondong, dan dengan itu uang receh di atas lemari Anda bisa habis tak tersisa, maka siklus akan bisa terulang hanya dalam hitungan hari, atau mingguan. Itu karena pada saat yang sama Anda akan tetap berbelanja, dan tiap berbelanja, Anda akan memiliki probability yang besar untuk mendapatkan kembalian berupa recehan, begitu seterusnya.

Bukit Diciptakan dari Tumpukan Tanah

Pernahkan Anda menghitung sebenarnya berapa banyak uang recehan yang ada di gawang jendela, di atas lemari, atau dimana saja tempat yang memungkinkan Anda meletakkan receh begitu saja?

Pernahkah Anda menimbang seberapa banyak massa yang tertimbun dari onggokan logam-logam yang dibentuk lingkaran, dicetak dengan ukiran gambar dan huruf, yang Anda abaikan begitu saja?

Pernahkan Anda berpikir bahwa receh-receh yang secara tidak sengaja Anda timbun itu memiliki nilai yang cukup besar untuk membangun atau memelihara sesuatu yang setiap hari Anda kunjungi, yakni masjid?

Pertanyaan yang terakhir mungkin belum pernah Anda bayangkan dalam benak Anda.

Kita memang terbiasa untuk menyisihkan uang barang dua ribu atau lima ribuan tiap kali kita pergi sholat Jumat. Kita masukkan lembar uang kertas itu ke dalam kotak yang akan mengelilingi jamaah pada saat sang khotib sedang berkhotbah.

Kita juga tidak asing dengan sumbangan yang kita berikan kepada ta’mir masjid ini atau itu taktala mereka sedang membangun atau merenovasi masjid di lingkungan kita.

Kita sisihkan semua uang-uang itu dari alokasi ZIS yang menjadi bagian penting dari distribusi pendapatan kita tiap bulannya.

Alangkah indahnya bila alokasi sodakoh dan infak yang sudah jelas sumber anggarannya bisa ditambah dari sumber-sumber lain yang terasa remeh bagi kita, yakni receh-receh itu?

Andai saja tiap diri kita menyisihkan recehan empat ratus perak setiap harinya saat pergi sholat duhur atau asyar di masjid, maka sebulan dapatlah diharapkan terkumpul uang sebanyak dua belas ribu rupiah. Itu adalah operasi aljabar yang sederhana. Dan itu baru diperoleh dari seseorang dari kita.

Pengandaian itu bisa dilanjutkan bila ada sepuluh orang saja jamaah masjid yang berpola serupa, maka sebulan-bulannya masjid akan mendapatkan dana operasional sebesar seratus dua puluh ribu rupiah. Jumlah yang tidak sedikit, dan dengan itu tanggungan listrik tiap bulan dapat teratasi. Hebatnya hany dari peranan si receh-receh yang berserakan di rumah-rumah kita.
Penting juga untuk dipahami, bahwa mengeluarkan sodakoh dalam bentuk receh-receh tentulah jauh lebih mudah daripada harus mengeluarkan infak dalam jumlah yang sama tetapi dilakukan pada suatu waktu. Secara psikologis, langkah infak bersama receh jauh lebih memungkinkan dan ringan rasanya ketimbang melakukannya dalam suatu waktu dengan menggunakan uang lembar dalam satuan lebih besar meski jumlah nominalnya sama adanya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar